Jumat, 16 April 2010












SISTEM PENDIDIKAN DALAM GERAKAN PRAMUKA

BY KAK DWI RIMBAWAN

Pendahuluan
Definisi pendidikan dalam arti kata luas adalah proses sepanjang hayat yang memungkinkan seseorang mengembangkan kapasitas dirinya sebagai individu dan sebagai anggota masyarakat secara menyeluruh dan berkesinambungan.
Pendidikan bertumpu pada empat sendi atau “soko guru”, yaitu :
1. Belajar mengetahui (learning to know)
untuk memiliki pengetahuan umum yang cukup luas dan dapat bekerja secara mendalam pada berbagai hal. Ini juga mencakup belajar untuk mengetahui, agar dapat memanfaatkan peluang-peluang pendidikan sepanjang hidup.
2. Belajar berbuat (learning to do)
bukan hanya untuk memperoleh kecakapan/keterampilan kerja, melainkan juga untuk memiliki keterampilan hidup yang luas, termasuk hubungan antar pribadi dan hubungan antar kelompok;
3. Belajar hidup bersama (learning to live together)
untuk menumbuhkan pemahaman orang lain, menghargai saling ketergantungan, keterampilan dalam kerja kelompok dan membereskan pertentangan-pertentangan, serta menghormati sedalam-dalamnya nilai-nilai kemajemukan (pluralisme), saling pengertian, perdamaian dan keadilan
4. Belajar menjadi seseorang (learning to be)
agar dapat lebih mengembangkan watak, serta dapat bertindak mandiri, berpendapat dan bertanggungjawab pribadi yang makin besar.
Berbeda dengan pendidikan nonformal lainnya, kepramukaan mencakup keempat “soko guru” pendidikan yang telah disebut di atas, yaitu : belajar mengetahui, belajar berbuat, belajar hidup bersama dan belajar menjadi seseorang. Kepramukaan memiliki sistem pendidikan terorganisasi dan lengkap dengan lima komponen utamanya, yakni:
1. Tujuan pendidikan
yaitu pengembangan potensi anak muda sebagai pribadi dan anggota masyarakat yang mandiri, yang siap membantu sesama, bertanggungjawab dan berkomitmen.
2. Peserta didik
yaitu anggota muda putra-putri Indonesia berusia 7 hingga 25 tahun, yang digolongkan menjadi pramuka siaga, pramuka penggalang, pramuka penegak dan pramuka pandega
3. Yang mendidik
disebut pembina (bukan guru, pelatih atau instruktur), lebih bertindak sebagai kakak yang lebih dewasa yang membantu anak mengembangkan diri, dengan menerapkan metode kepramukaan.
4. Metode pendidikan
yaitu pendidikan diri yang progesif, tertuang dalam metode kepramukaan, yang merupakan titik kuat dan kekhasan Gerakan Pramuka.
5. Materi pendidikan atau kurikulum
tertuang dalam program kegiatan peserta didik, berbentuk kegiatan yang mengandung kaidah pendidikan. Kegiatan yang menarik dan menyenangkan, sehat, berperaturan dan berguna, serta dilaksanakan di alam terbuka.
Pendekatan pendidikan yang digunakan dalam kepramukaan adalah pendekatan yang utuh dan menyeluruh (holistik). Namun demikian, kepramukaan tetap merupakan pelengkap jalur-jalur pendidikan lainnya dan memberi kontribusi kepada keseluruhan pendidikan anak muda.
Sebagai wadah pendidikan non formal, Gerakan Pramuka menggunakan prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan. Proses pendidikan kepramukaan pada hakekatnya berbentuk kegiatan menarik yang mengandung pendidikan, bertujuan pendidikan, dilandasi nilai-nilai pendidikan, dilaksanakan di luar lingkungan pendidikan keluarga dan di luar lingkungan pendidikan sekolah, dengan menggunakan prinsip dasar kepramukaan dan metode kepramukaan. Pendidikan kepramukaan sesuai dengan gagasan penciptanya, Lord Baden Powell, yang mula-mula dituangkan dalam buku Scouting for Boys, pada dasarnya ditujukan pada pembinaan anak-anak dan pemuda. Jadi bukan pendidikan untuk orang dewasa. Namun untuk menunjang keberhasilan pembinaan peserta didik itu, perlu adanya pendidikan untuk orang dewasa, yang akan bertindak sebagai pamong dengan sikap sesuai dengan sistem among, membawa peserta didik ke tujuan Gerakan Pramuka.
Dengan demikian maka fungsi pendidikan kepramukaan akan berbeda, yaitu untuk anak-anak dan pemuda berfungsi sebagai permainan atau kegiatan yang menarik, sedang bagi orang dewasa merupakan pengabdian dari para sukarelawan.

Sistem Pendidikan bagi peserta didik
Proses pendidikan bagi peserta didik ditujukan pada pencapaian tujuan Gerakan Pramuka. Proses pendidikan ini dilakukan dalam bentuk kegiatan yang dilaksanakan dari, oleh dan untuk peserta didik, dalam lingkungan alam mereka sendiri, dipimpin oleh mereka sendiri, tetapi dibawah bimbingan dan tanggung jawab orang dewasa sebagai pernbinanya.
Proses pendidikan untuk peserta didik ini diatur melalui Syarat Kecakapan Urnum (SKU) dan Syarat Kecakapan Khusus (SKK), serta Pramuka Garuda. SKU adalah syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh setiap pramuka, sedang SKK merupakan syarat pilihan yang dapat dipilih secara bebas oleh masing-masing pramuka. Dengan SKU dan SKK peserta didik secara tidak langsung dibawa bergerak, setingkat demi setingkat menuju ke tujuan Gerakan Pramuka.
Untuk pramuka siaga (usia 7 - 10 tahun) ada tiga tingkat Syarat Kecakapan Urnum, yaitu : siaga mula, siaga bantu, siaga tata. Sejak tingkat siaga bantu, seorang pramuka siaga dapat mencapai syarat kecakapan khusus sebanyak-banyaknya, sesuai dengan minat bobot dan pilihannya. SKK siaga hanya ada satu tingkat, terdiri atas bermacam-macam kecakapan. Seorang Siaga Tata yang memenuhi kecakapan dan persyaratan tertentu dapat mencapai pramuka siaga Garuda.
Untuk pramuka penggalang (usla 11 15 tahun) ada tiga tingkat SKU, yaitu : penggalang ramu, penggalang rakit, penggalang terap. Sejak tingkat penggalang rakit, seorang pramuka penggalang dapat mencapai SKK sesuai dengan pilihannya. Seorang penggqlang terap yang memenuhi kecakapan dan persyaratan tertentu, dapat mencapai pramuka penggalang Garuda.
Untuk pramuka penegak (usia 16 - 20 tahun) ada dua tingkat SKU, yaltu : penegak bantara dan penegak laksana. Baik penegak bantara maupun periegak laksana, keduanya dapat mencapai SKK sesuai dengan pilihannya. Seorang penegak laksana yang memenuhi syarat tertentu, dapat mencapai pramuka Penegak Garuda.
Untuk pramuka pandega (usia 21 - 25 tahun) hanya ada satu tingkat SKU saja, yaitu pandega. Sesudah dilantik pandega, ia dapat mencapai SKK sesuai dengan pilihannya. Pramuka Pandega yang memenuhi syarat tertentu, dapat mencapai pramuka pandega Garuda.
Seorang anak/pemuda yang usianya sudah melampaui batas tertinggi dari. suatu golongan usia, harus pindah ke golongan usia lainnya, tanpa harus menyelesaikan SKU tingkat tertingginya. Misalnya seorang pramuka siaga sudah berusia 11 tahun, ia harus pindah ke pasukan penggalang, meskipun ia baru mencapai SKU siaga bantu. la tidak perlu menyelesaikan SKU siaga tata lebih dahulu, sebab di pasukan penggalang dia akan diuji bahan SKU yang sama dengan SKU siaga tata, bahkan diperdalarn atau diperberat.

Sistem pendidikan bagi orang dewasa
Pendidikan bagi orang dewasa dalam Gerakan Pramuka dituiukan kepada pemberian bekal kemampuan, agar orang itu dapat mengabdikan dirinya secara sukarela dan aktif menjalankan kewajibannya sebagai pembantu pembina pramuka, pembina pramuka, pelatih pembina pramuka, pembantu andalan, andalan, anggota majelis pembimbing dan staf kwartir. Pendidikan formal bagi orang dewasa berbentuk kursus-kursus, baik di dalam maupun di luar Gerakan Pramuka. Pendidikan itu diatur sesuai dengan kebutuhan orang dewasa yang bersangkutan.
Kursus Orientasi diadakan untuk orangtua pramuka, para anggota majelis pembimbing, masyarakat lainnya. Kursus Orientasi sesuai dengan lamanya kursus, dibagi menjadi tiga macam : kursus orientasi singkat, kursus orientasi sedang, kursus orientasi lengkap. Kursus orientasi lengkap, karena kurikulumnya sama dengan kursus pembina mahir tingkat dasar, maka dihargai sama derajadnya. Bila pernegang sertifikat kursus orientasi lengkap ini langsung membina peserta didik, ia dapat langsung pula melanjutkan ke tingkat berikutnya dari kursus pembina pramuka. Selesai mengikuti kursus orientasi peserta menclapat surat keterangan. Kursus orientasi diarahkan untuk memberi cukup gambaran tentang pendidikan kepramukaan, sehingga masyarakat mempunyai citra yang baik tentang Gerakan Pramuka dan menggugah mereka untuk memberi dukungan dan bantuan kepada Gerakan Pramuka.
Kursus pembina pramuka mahir diperuntukkan bagi mereka yang akan membina peserta didik secara langsung, yaitu para pembina pramuka dan pembantu pembina pramuka. Di samping itu dalam rangka pembuatan kader, maka pramuka penegak dan pandega pun dapat dibenarkan, bahkan dianjurkan untuk mengikuti kursus pembina pramuka tingkat dasar. Kursus pembina pramuka mahir dibagi menjadi dua tingkat, yaitu : kursus pembina pramuka mahir tingkat dasar disingkat Kursus Dasar, selarna 90 jam pelajaran; kursus pembina pramuka mahir tingkat lanjutan,. disingkat Kursus Lanjutan selarna 100 jam pelajaran. Diantara kedua tingkat kursus tersebut ada kegiatan yang disebut masa pengembangan, yaitu kesempatan bagi peserta untuk mencoba melaksanakan apa yang diterimanya dalam Kursus Dasar, dan mendapat petunjuk serta bimbingan dari para Pelatihnya. Lamanya masa ini minimum 6 bulan. Keseluruhan k.ursus tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh, meskipun pelaksanaannya bertahap. Selesai mengikuti kursus ini seorang pembina mendapat ijazah pembina mahir, pita dan selendang mahir. Di Indonesia tidak digunakan manik kayu seperti yang digunakan gerakan kepramukaan sedunia, karena sejarah benda tersebut tidak sesuai dengan tuntutan masyarakat dan bangsa Indonesia. Kursus ini diarahkan agar para Pembina Pramuka dapat membina peserta didik sesuai dengan hakekat Gerakan Pramuka dan penggunaan prinsip dasar kepramukaan dan metode kepramukaan.
Kursus pelatih pembina pramuka diperuntukkan bagi para pembina pramuka mahir (lengkap) yang berbakat dan bersedia menjadi pelatih pembina pramuka. Kursus pelatih pembina pramuka dibagi menjadi dua tingkat, yaitu : kursus pelatih dasar atau KPD (1 minggu) dan kursus pelatih lanjutan atau KPL (1 minggu). Peserta lulusan kursus tersebut di atas akan menerima ijazah dan dapat diangkat oleh Kwartir Cabangnya menjadi seorang pelatih pembina pramuka, yang dinyatakan dengan Surat Hak Latih (SHL). Predikat pelatih ini digunakan selama yang bersangkutan melakukan tugasnya sebagai Pelatih dan mernegang SHL. Syarat-syarat.mengikuti KPD adalah (1) Pembina mahir (lengkap); (2) Pembina pramuka yang baik dan aktif membina pramuka di gugusdepannya; (3) Berminat dan berbakat untuk menjadi pelatih pembina pramuka. Syarat mengikuti KPL adalah (1) Pelatih lulusan KPD; (2) Sudah aktif melaksanakan tugas pelatih sedikitnya selama satu tahun; (3) Pelatih aktif, berbakat, berpengetahuan dan pengalaman serta bereputasi baik; (4) Pernah mengorganisir, memimpin atau menjadi anggota tim pelatih pada pendidikan formal dan informal bagi orang dewasa; (5) Bersedia untuk selalu membina dan mengembangkan kecakapan dan kernampuan dirinya. Kursus Pelatih ini diarahkan untuk membentuk tenaga yang mampu dan cakap menyelenggarakan pendidikan formal dan informal untuk orang dewasa dalam Gerakan Pramuka.
Kursus-kursus untuk para "petugas".dalam Gerakan Pramuka, antara lain : kursus pengelola kwartir, kursus andalan, kursus pamong satuan karya, kursus instruktur, kursus pendidikan kependudukan, kursus kader koperasi, kursus keterampilan air bersih, kursus keterampilan perumahan sehat, kursus peningkatan mutu makanan rakyat dll. Peserta kursus ini diharapkan sudah pernah mengikuti Kursus Dasar. Selesai mengikuti kursus mereka mendapat surat keterangan, dan diharapkan mereka mampu melaksanakan tugasnya masing-masing.
LAMBANG GERAKAN PRAMUKA, WOSM DAN WAGGGS










DWI SUPRIYANTO







Lambang Gerakan Pramuka



Silhouette (bayangan) tunas kelapa.
Diciptakan oleh Soenardjo Atmodipuro.



Penggunaan lambang Gerakan Pramuka antara lain pada bendera, papan nama kwartir dan satuan, tanda pengenal dan alat administrasi Gerakan Pramuka.




Arti kiasan dan makna lambang Gerakan Pramuka sebagai berikut :
1. Buah nyiur dalam keadaan tumbuh dinamakan “cikal” (atau tunas).
2. Buah nyiur dapat bertahan lama dalam keadaan yang bagaimanapun juga.
3. Nyiur dapat tumbuh dimana saja yang membuktikan besarnya daya upaya dalam menyesuaikan dirinya dengan keadaan sekelilingnya.
4. Nyiur tumbuh menjulang lurus ke atas dan merupakan salah satu pohon yang tertinggi di Indonesia.
5. Akar nyiur tumbuh kuat dan erat di dalam tanah.
6. Nyiur adalah pohon yang serba guna, dari ujung atas hingga akarnya.






Lambang kepramukaan sedunia (WOSM)

Lencana pramuka adalah ujung panah yang menunjukkan Utara pada peta atau kompas, ini merupakan arah yang benar serta ke atas. Lambang ini mengingatkan pramuka agar ia selaras dan selurus dengan jarum sebuah kompas dalam memelihara cita-cita kepramukaannya, dan menunjukkan jalan dalam melakukan kewajibannya dalam menolong orang lain.

Tiga ujung lambang yang seringkali disebut Trefoil (bunga yang berdaun tiga), atau dinamakan juga dengan nama Perancis Fleur-de-lie atau bunga leli dengan tiga helai daun mahkotanya yang diikat menjadi satu, menunjukkan tiga pokok janji pramuka yaitu Tri Satya. Jarum kompas yang menunjuk ke atas pada mata panah menunjukkan jalan benar yang harus ditempuh pramuka. Dua bintang bersudut lima menunjukkan sepuluh pokok ketentuan moral atau Dasa Darma. Dua bintang tersebut diartikan juga sebagai kebenaran dan pengetahuan.
Secara keseluruhan lambang kepramukaan sedunia tampak seperti mata panah dikelilingi seutas tali yang membentuk lingkaran terikat dengan simpul mati. Ini memberi arti kuat dan eratnya kesatuan dan persaudaraan kepramukaan sedunia. Mata panah dan talinya berwarna putih, atau kesucian adalah lambang kebaikan, sedangkan warna ungu tua sebagai dasar diartikan sebagai kepemimpinan dan semangat suka menolong kepada orang lain. Dipilihnya mata panah oleh penemu gerakan kepramukaan sedunia sebagai lambang adalah untuk menunjukkan arah bakti dan persaudaraan pramuka sedunia.



Tanda kepramukaan sedunia puteri (WAGGGS)


Bunga yang berdaun tiga atau daun semanggi menunjukkan tiga pokok janji pramuka atau Tri Satya. Bentuk jarum kompas menunjuk ke atas pada daun yang ditengah menunjukkan arah yang benar dari pembinaan pramuka puteri sedunia. Bintang bersudut lima pada daun kiri dan kanan menunjukkan sepuluh pokok ketentuan moral atau Dasa Darma. Gambar setengah melingkar di bawah trefoil melambangkan api semangat pengabdian yang selalu menyala di dalam dada setiap pramuka puteri dimanapun berada.
Lingkaran yang mengelilingi lambang menunjukkan kesatuan dan persaudaraan pramuka puteri sedunia. Trefoil berwarna emas menunjukkan matahari yang selalu menyinari pramuka puteri sedunia, sedangkan latar belakang warna dasar biru cemerlang berarti kebenaran, kepercayaan, pengabdian, dan kesetiaan.


Pemakaian pada seragam pramuka

Berdasarkan surat Keputusan Ketua Kwartir Nasional Nomor 064 tahun 2001, Gerakan Pramuka menyatakan menarik diri dari keanggotaan WAGGGS. Berkaitan dengan pengunduran diri ini maka logo atau lambang WAGGGS (tanda kepanduan puteri) yang selama ini terpasang di leher sebelah kanan dari pakaian seragam puteri diganti dengan pemasangan logo atau lambang WOSM yang ukuran dan bentuknya sama dan seukuran dengan logo atau lambang Gerakan Pramuka yang dipasang di leher baju sebelah kiri.
PRINSIP DASAR KEPRAMUKAAN DAN
METODE KEPRAMUKAAN


Pendahuluan

Baden Powell sebagai penemu pendidikan kepramukaan telah menyusun prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan dan menggunakannya untuk membina generasi muda melalui pendidikan kepramukaan. Beberapa prinsip itu didasarkan pada kegiatan anak atau remaja sehari-hari. Prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan itu harus diterapkan secara keseluruhan. Bila sebagian dari prinsip itu dihilangkan, maka organisasi itu bukan lagi gerakan pendidikan kepramukaan.
Prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan yang diciptakan Baden Powell itu tertulis dalam Anggaran Dasar Kepramukaan sedunia, Bab IV sebagai berikut :
1. Kewajiban terhadap Tuhan dan agama
2. Setia kepada Negara
3. Persahabatan dan persaudaraan sedunia
4. Menolong sesama hidup
5. Satya dan Darma Pramuka
6. Kesukarelaan
7. Non politik
8. Metoda latihan yang unik bagi anak dan pemuda, dalam bentuk kegiatan yang diarahkan untuk menyiapkan mereka menjadi anggota masyarakat yang bertanggungjawab, dan atas dasar :
a. sistem beregu;
b. sistem tanda kecakapan;
c. kegiatan di alam terbuka.
Prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan yang merupakan bukti bahwa kepramukaan itu bersifat universal, adalah merupakan syarat mutlak untuk diterima sebagai anggota Organisasi Kepramukaan Sedunia.


Prinsip dasar kepramukaan dan metode kepramukaan (PDK dan MK)

Gerakan Pramuka menerapkan prinsip dasar kepramukaan yang disusun oleh Baden Powell disesuaikan dengan keadaan dan kepentingan serta perkembangan bangsa Indonesia. Untuk membedakan antara prinsip dan metode maka diadakan perubahan, dan prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan diganti dengan prinsip dasar kepramukaan dan metode kepramukaan.
Prinsip dasar kepramukaan dan metode kepramukaan merupakan ciri khas yang membedakan kepramukan dari pendidikan lain. Prinsip dasar kepramukaan dan metode kepramukaan merupakan dua unsur proses pendidikan terpadu yang harus diterapkan dalam setiap kegiatan dan dilaksanakan sesuai dengan kepentingan, kebutuhan, situasi dan kondisi masyarakat.
Prinsip dasar kepramukaan
1. Iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
2. Peduli terhadap diri pribadinya;
3. taat kepada kode kehormatan pramuka.
Prinsip dasar kepramukaan berfungsi sebagai :
1. Norma hidup seorang anggota Gerakan Pramuka
2. Landasan kode etik Gerakan Pramuka;
3. Landasan sistem nilai Gerakan Pramuka;
4. Pedoman dan arah pembinaan kaum muda anggota Gerakan Pramuka;
5. Landasan gerak dan kegiatan pramuka mencapai sasaran dan tujuannya.
Prinsip dasar kepramukaan sebagai norma hidup seorang anggota Gerakan Pramuka, ditanamkan dan ditumbuhkembangkan melalui proses penghayatan oleh dan untuk diri pribadinya, bagi peserta didik dibantu oleh pembinanya, sehingga pelaksanaan dan pengamalannya dilakukan dengan penuh kesadaran, kemandirian, kepedulian, tanggungjawab serta keterikatan moral, baik sebagai pribadi maupun anggota masyarakat.
Menerima secara sukarela prinsip dasar kepramukaan adalah hakekat pramuka, baik sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, makhluk sosial, maupun individu yang menyadari bahwa diri pribadinya:
1. Mentaati perintah Tuhan Yang Maha Esa dan beribadah sesuai tata-cara dari agama yang dipeluknya serta menjalankan segala perintahNya dan menjauhi laranganNya.
2. Mengakui bahwa manusia tidak hidup sendiri, melainkan hidup bersama dengan makhluk lain yang juga diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa, khususnya sesama manusia yang telah diberi derajat yang lebih mulia dari makhluk lainnya. Dalam kehidupan bersama didasari oleh prinsip peri kemanusiaan yang adil dan beradab.
3. Diberi tempat untuk hidup dan berkembang oleh Tuhan Yang Maha Esa di bumi yang berunsurkan tanah, air dan udara yang merupakan tempat bagi manusia untuk hidup bersama, berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dengan rukun dan damai.
4. Memiliki kewajiban untuk menjaga dan melestarikan lingkungan sosial serta memperkokoh persatuan, menerima kebhinnekaan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
5. Memerlukan lingkungan hidup yang bersih dan sehat agar dapat menunjang/memberikan kenyamanan dan kesejahteraan hidupnya. Karena itu manusia wajib peduli terhadap lingkungan hidupnya dengan cara menjaga, memelihara dan menciptakan lingkungan hidup yang baik.

Metode kepramukaan
Metode kepramukaan merupakan cara belajar interaktif progresif melalui :
1. Pengamalan kode kehormatan pramuka;
2. Belajar sambil melakukan;
3. Sistem berkelompok;
4. Kegiatan yang menantang dan meningkat serta mengandung pendidikan yang sesuai dengan perkembangan rohani dan jasmani peserta didik;
5. Kegiatan dialam terbuka;
6. Sistem tanda kecakapan;
7. Sistem satuan terpisah untuk putera dan untuk puteri;
8. Kiasan dasar.
Metode Kepramukaan pada hakekatnya tidak dapat dilepaskan dari prinsip dasar kepramukaan. Keterkaitan itu terletak pada pelaksanaan kode kehormatan. Metode kepramukaan sebagai suatu sistem, terdiri atas unsur-unsur yang merupakan subsistem terpadu dan terkait, yang tiap unsurnya mempunyai fungsi pendidikan yang spesifik dan saling memperkuat serta menunjang tercapainya tujuan.
Pengamalan kode kehormatan dilaksanakan dengan :
1. Menjalankan ibadah menurut agama dan kepercayaan masing-masing.
2. Membina kesadaran berbangsa dan bernegara.
3. Mengenal, memelihara dan melestarikan lingkungan beserta alam seisinya.
4. Memiliki sikap kebersamaan, tidak mementingkan diri sendiri, baik dalam lingkungan keluarga maupun dalam kehidupan bermasyarakat, membina persaudaraan dengan pramuka sedunia.
5. Hidup secara sehat jasmani dan rohani.
6. Belajar mendengar, menghargai dan menerima pendapat/gagasan orang lain, membina sikap mawas diri, bersikap terbuka, mematuhi kesepakatan dan memperhatikan kepentingan bersama, mengutamakan kesatuan dan persatuan serta membina diri dalam upaya bertutur kata dan bertingkah laku sopan, ramah dan sabar.
7. Membiasakan diri memberikan pertolongan dan berpartisipasi dalam kegiatan bakti maupun sosial, membina kesukarelaan dan kesetiakawanan, membina ketabahan dan kesabaran dalam menghadapi/mengatasi rintangan dan tantangan tanpa mengenal sikap putus asa.
8. Kesediaan dan keikhlasan menerima tugas yang ditawarkan, sebagai upaya persiapan pribadi menghadapi masa depan, berupaya melatih keterampilan dan pengetahuan sesuai kemampuannya, riang gembira dalam menjalankan tugas dan menghadapi kesulitan maupun tantangan.
9. Bertindak dan hidup secara hemat, serasi dan tidak berlebihan, teliti, waspada dan tidak melakukan hal yang mubazir, dengan membiasakan hidup secara bersahaja sebagai persiapan diri agar mampu dan mau mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi.
10. Mengendalikan dan mengatur diri, berani menghadapi tantangan dan kenyataan, berani dalam kebenaran, berani mengakui kesalahan, memegang teguh prinsip dan tatanan yang benar, taat terhadap aturan dan kesepakatan.
11. Membiasakan diri menepati janji, mematuhi aturan dan ketentuan yang berlaku, kesediaan untuk bertanggungjawab atas segala tindakan dan perbuatan, bersikap jujur dalam hal perbuatan maupun materi.
12. Memiliki daya pikir dan daya nalar yang baik, dalam upaya membuat gagasan dan menyelesaikan permasalahan, berhati-hati dalam bertindak, bersikap dan berbicara.
Belajar sambil melakukan dilaksanakan dengan :
1. Kegiatan dalam kepramukaan dilakukan sebanyak mungkin praktek secara praktis dalam upaya memberikan bekal pengalaman dan keterampilan yang bermanfaat bagi anggota muda dan anggota dewasa muda.
2. Mengarahkan perhatian anggota muda dan anggota dewasa muda untuk berbuat hal-hal nyata dan merangsangnya agar rasa keingintahuan akan hal-hal baru dan keinginan untuk berpartisipasi dalam segala kegiatan timbul, daripada hanya menjadi penonton.
Sistem berkelompok dilaksanakan agar anggota muda dan anggota dewasa muda memperoleh kesempatan belajar memimpin dan dipimpin, berorganisasi, memikul tanggungjawab, mengatur diri, menempatkan diri, bekerja dan bekerjasama dalam kerukunan.Kaum muda dikelompokkan dalam satuan gerak, yang masing-masing dipimpin oleh kaum muda sendiri, yang merupakan wadah kerukunan di antara mereka.
Kegiatan menantang dan progresif serta mengandung pendidikan yang sesuai dengan perkembangan rohani dan jasmani anggota muda dan anggota dewasa muda dilakukan dengan :
1. Kegiatan yang menantang dan menarik minat kaum muda untuk menjadi pramuka, sedangkan mereka yang telah menjadi pramuka tetap terpikat dan mengikuti serta mengembangkan acara kegiatan tersebut.
2. Kegiatan bersifat kreatif, inovatif dan rekreatif yang mengandung pendidikan, dengan maksud supaya melalui proses pendidikan akan dapat mengubah sikap dan perilaku, menambah pengetahuan dan pengalaman serta meningkatkan penguasaan keterampilan dan kecakapan bagi setiap anggota muda dan anggota dewasa muda.
3. Kegiatan yang memperhatikan tiga soko guru dalam kepramukaan ialah modern, manfaat, taat asas.
4. Kegiatan dilaksanakan secara terpadu dan bagi anggota muda dan anggota dewasa muda merupakan tahapan pengembangan kemampuan dan keterampilannya baik secara individu maupun kelompoknya.
5. Pendidikan dalam kepramukaan dilaksanakan dalam tahapan peningkatan bagi kemampuan dan perkembangan individu maupun kelompok.
6. Acara kegiatan yang disesuaikan dengan usia dan perkembangan rohani dan jasmani anggota muda dan anggota dewasa muda, sehingga kepramukaan dapat diterima dengan mudah dan pasti oleh yang bersangkutan.
7. Penggolongan anggota muda dan anggota dewasa muda menurut jenis kelamin, umur dan kemampuannya, dimaksudkan untuk memudahkan penyesuaian kegiatan dengan perkembangan rohani dan jasmaninya.
8. Kegiatan yang diusahakan agar dapat mengembangkan bakat, minat dan mental, moral, spiritual, emosional, sosial, intelektual dan fisik anggota Gerakan Pramuka, serta menunjang dan berfaedah bagi perkembangan diri pribadi, masyarakat dan lingkungannya.
Kegiatan di alam terbuka adalah kegiatan rekreasi edukatif dengan mengutamakan kesehatan, keselamatan dan keamanan. Kegiatan di alam terbuka memberikan pengalaman adanya saling ketergantungan antara unsur-unsur alam dan kebutuhan untuk melestarikannya, selain itu mengembangkan suatu sikap bertanggungjawab akan masa depan yang menghormati keseimbangan alam. Bagi anggota muda dan anggota dewasa muda menjaga lingkungan adalah hal yang utama yang harus ditaati dan dikenali sebagai aturan dasar dalam tiap kegiatan yang selaras dengan alam. Kegiatan di alam terbuka mengembangkan kemampuan diri mengatasi tantangan yang dihadapi, menyadari tidak ada sesuatu yang berlebihan di dalam dirinya, menemukan kembali cara hidup yang menyenangkan dalam kesederhanaan, membina kerjasama dan rasa memiliki.
Tanda kecakapan adalah tanda yang menunjukkan keterampilan dan kecakapan tertentu yang dimiliki seorang anggota muda dan anggota dewasa muda. Sistem tanda kecakapan bertujuan mendorong dan merangsang para pramuka supaya berusaha memperoleh keterampilan dan kecakapan. Setiap pramuka wajib berusaha memperoleh keterampilan dan kecakapan yang berguna bagi kehidupan diri dan baktinya kepada masyarakat.
Sistem satuan terpisah untuk putera dan puteri dilaksanakan sebagai berikut:
1. Satuan pramuka puteri dibina oleh pembina puteri, satuan pramuka putera dibina oleh pembina putera.
2. Tidak dibenarkan satuan pramuka puteri dibina oleh pembina putera dan sebaliknya, kecuali perindukan siaga putera dapat dibina oleh pembina puteri.
3. Jika kegiatan itu diselenggarakan dalam bentuk perkemahan, harus dijamin dan dijaga agar tempat perkemahan puteri dan tempat perkemahan putera terpisah; perkemahan puteri dipimpin oleh pembina puteri dan perkemahan putera dipimpin oleh pembina putera.

Pelaksanaan penggunaan prinsip dasar kepramukaan dan metode kepramukaan harus diserasikan dengan keadaan, kepentingan dan perkembangan bangsa dan masyarakat Indonesia agar dapat dijamin bahwa pendidikan itu akan menghasilkan manusia, warga negara dan anggota masyarakat yang sesuai dan memenuhi keadaan dan kebutuhan bangsa dan masyarakat Indonesia. Usaha Gerakan Pramuka untuk mencapai tujuannya itu hanis mengarah pada pengembangan dan pembinaan watak, mental, jasmani, rokhani, bakat, pengetahuan, pengalaman dan kecakapan pramuka, melalui kegiatan yang dilakukan dengan praktek secara praktis, dengan menggunakan prinsip dasar kepramukaan dan metode kepramukaan serta sistem among.
Pelaksanaan kegiatan yang menggunakan prinsip dasar kepramukaan dan metode kepramukaan serta sistem among ini menggunakan pandangan dan memperlakukan tiap peserta didik sebagai makhluk Tuhan, makhluk pribadi dan makhluk sosial. Peserta didik merupakan subyek didik, yang ikut menentukan corak kegiatan kepramukaan, yaitu dengan memperhatikan minat, harapan, kernampuan dan kebutuhan mereka. Pendidikan Kepramukaan juga dilandasi dengan :
1. Pendidikan yang berpusat pada Tuhan, yaitu bahwa keglatannya merupakan pelaksanaan kewajiban terhadap Tuhan, sesuai dengan agamanya masing-masing.
2. Pendidikan yang berpusat pada anak dan pemuda, yaitu bahwa kegiatannya dilakukan atas prakarsa mereka, dari, dan untuk mereka sendiri, serta oleh mereka pula rneskipun tetap di bawah tanggung jawab orang dewasa.
3. Pendidikan yang berpusat pada masyarakat yaitu bahwa kegiatannya disesuaikan dengan keadaan, kemampuan, harapan dan kebutuhan masyarakat.

SEJARAH PRAMUKA


SEJARAH SINGKAT

PENDIDIKAN KEPANDUAN

DAN GERAKAN PRAMUKA




Pengalaman Baden Powell

Ø Lahir 22 Pebruari 1857 di London.

Ø Nama : Robert Stephenson Smyth. Ayahnya seorang profesor geometry di Universitas Oxford, bernama Baden Powell.

Ø Ditinggal bapak sejak kecil, dan mendapatkan pembinaan watak dari ibunya.

Ø Latihan keterampilan berlayar, berenang, berkemah, olah raga dan lain lainnya didapat dari kakak kakaknya.

Ø Baden Powell selalu gembira, lucu, cerdas, suka main musik, mengarang, bersandiwara, berolah raga, dan menggambar.

Ø Pengalaman di India sebagai Pembantu Letnan pada resimen 13 Kavaleri yang berhasil mengikuti jejak kuda yang hilang, dan diketemukan di puncak gunung, serta keberhasilan melatih panca indra kepada Kimball-O’Hara.

Ø Pengalaman terkepung bangsa Boer di kota Mafeking, Afrika Selatan selama 127 hari, dan kekurangan makan.

Ø Pengalaman mengalahkan kerajaan Zulu di Afrika dan mengambil kalung manik kayu milik Raja Dinizulu.

Pengalaman tersebut ditulis menjadi sebuah buku "Aids To Scouting".

Ø Buku ini sangat menarik, tidak hanya bagi para pemuda bahkan juga orang dewasa.

Ø Tn. William Smyth sebagai salah seorang pimpinan Boys Brigade di Inggris minta agar Baden Powell melatih anggotanya sesuai dengan ceritera pengalaman beliau itu.

Ø 21 orang pemuda dari Boys Brigade di berbagai Wilayah Negeri Inggris, di ajak berkemah dan berlatih di pulau Brownsea pada tanggal 25 Juli 1907 selama 8 hari

Ø Tahun 1910 Baden Powell minta pensiun dari tentara dengan pangkat terakhir Letnan Jenderal.

Ø Beliau mendapat titel Lord dari Raja George pada tahun 1929.

Ø Baden Powell menikah dengan Olave St Clair Soames pada tahun 1912, dan dianugerahi tiga orang anak.

Ø Baden Powell meninggal pada tanggal 8 Januari 1941 di Nyeri, Kenya, Afrika.

Sejarah kepramukaan sedunia W.

Ø Pada awal tahun 1908 Baden Powell menulis buku "Scouting for Boys". Buku ini cepat tersebar ke seluruh negeri Inggris, bahkan ke negara negara lainnya, dan berdiri­lah di mana mana organisasi kepramukaan (yang semula hanya untuk anak laki laki berusia penggalang) yang disebut Boy Scout.

Ø Kemudian disusul berdirinya organisasi kepramukaan putri yang diberi nama Girl Guides atas bantuan Agnes, adik perempuan Baden Powell, dan kemudian diteruskan oleh Ny. Baden Powell.

Ø Tahun 1916 berdiri kelompok pramuka usia siaga, yang disebut Cub (anak serigala) dengan buku The Jungle Book, berisi ceritera tentang Mowgli anak didikan rimba (anak yang di­pelihara di hutan oleh induk serigala) karangan Rudyard Kipling sebagai ceritera pembungkus kegiatan Cub tersebut.

Ø Tahun 1918 Baden Powell membentuk Rover Scout (pramuka usia penegak) untuk menampung mereka yang sudah lewat usia 17 tahun, tetapi masih senang giat di bidang kepramukaan. Tahun 1922 Baden Powell menerbitkan buku Rovering to Success (mengembara menuju bahagia) yang berisi petunjuk bagi para pramuka penegak dalam menghadapi hidupnya, agar mencapai kebahagiaan.

Ø Tahun 1920 diselenggarakan jambore sedunia, di arena Olympia, London. Baden Powell telah mengundang pramuka dari 27 negara, dan pada saat itu Baden Powell diangkat sebagai Bapak Pandu Sedunia (Chief Scout Of The World).

Ø Pada tahun 1914 Baden Powell mulai menulis petunjuk untuk kursus pembina pramuka. Rencana ini baru dapat dilaksanakan mulai tahun 1919. Dari sahabatnya yang bernama W.F. de Bois Mac Leren, Baden Powell mendapat sebidang tanah di Chingford, yang digunakan sebagai tempat pendidikan pembina pramuka. Tempat ini terkenal dengan nama GILWELL PARK.

Ø Sejak tahun 1920 dibentuk Dewan Internasional dengan 9 orang anggota dan Biro Sekretariat­nya yang berada di London, Inggris. Pada tahun 1958 biro kepramukaan \sedunia (putera) dipindahkan dari London ke Ottawa di Canada. Tanggal 1 Mei 1968 biro kepramukaan sedunia (putera) dipindahkan lagi ke Geneva, di Swiss. Biro kepramukaan sedunia (putera) hanya mempunyai 40 orang tenaga Staf, yang ada di Geneva dan di 5 kantor Kawasan, yaitu di Costa Rico, Mesir, Philipina, Swiss dan Nigeria. Biro kepramukaan sedunia puteri sampai sekarang tetap berada di London, dan juga mem­punyai kantor di lima kawasan, yaitu Eropa, Asia Pasifik, Arab, Afrika dan Amerika Latin.

Sejarah singkat Gerakan Pramuka

Ø Pada tahun 1908 Mayor Jenderal Robert Baden Powell dari Inggris melancarkan suatu gagasan tentang pendidikan di luar sekolah untuk anak anak Inggris, dengan tujuan supaya mereka menjadi manusia Inggris, warga Inggris dan anggota masyarakat Inggris yang baik, sesuai dengan keadaan dan kebutuhan kerajaan Inggris Raya ketika itu.

Ø Gagasan Baden Powell itu jitu, cemerlang, dan sangat menarik sehingga dilaksanakan juga di negara negara lain, di antaranya di Nederland (Padvinder, Padvinderij).

Ø Oleh orang Belanda gagasan itu kemudian dibawa dan dilaksanakan juga dijajahannya di sini (Nederland Oost Indie), dan didirikan oleh orang orang Belanda di Indonesia organisasi yang bernama NIPV (Nederland Indische Padvinders Vereeniging = Persatuan Pandu pandu Hindia Belanda).

Ø Oleh pemimpin pemimpin di dalam pergerakan nasional gagasan Baden Powell itu diambil alih, dan dibentuklah organisasi organisasi kepanduan yang bertujuan membentuk manusia Indonesia yang baik yaitu menjadi kader Pergerakan Nasional. Didirikan bermacam macam organisasi kepanduan antara lain J P 0 (Javaanse Padvindres Organizatie), J J P (Jong Java Padvinderij), NATIPIJ (Nationale Islamitische Padvinderij), SIAP (Sarekat Islam Afdeling Padvinderij), H W (Hisbul Wathon) dan sebagainya.

Ø Sumpah pemuda yang dicetuskan dalam Konggres Pemuda, pada tanggal 28 Oktober 1928, benar benar menjiwai gerakan kepanduan nasional Indonesia untuk lebih bergerak maju.

Ø Adanya larangan Pemerintah Hindia Belanda kepada organisasi kepanduan di luar NIPV untuk menggunakan istilah Padvinder dan Padvinderij, maka K.H. Agus Salim menggunakan istilah Pandu dan Kepanduan untuk menggantikan istilah asing padvinder dan padvindery itu.

Ø Dengan meningkatnya kesadaran nasional Indonesia, maka timbullah niat untuk mengeratkan persatuan antara organisasi organisasi kepanduan. Ini menjadi kenyataan pada tahun 1930 dengan adanya INPO (Indonesische Padvinders Organizatie) PK (Pandu Kasultanan) dan PPS (Pandu Pemuda Sumatera) berdiri menjadi satu organisasi yaitu KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia). Kemudian terbentuklah suatu federasi yang dinamakan Persatuan Antar Pandu­-pandu Indonesia (PAPI) pada tahun 1931 yang kemudian berubah menjadi Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia (BPPKI) pada tahun 1938.

Ø Di waktu pendudukan Jepang (Perang Dunia II), oleh penguasa Jepang di Indonesia organisasi kepanduan di Indonesia itu dilarang adanya. Tokoh tokoh pandu banyak yang masuk dalam organisasi Seinendan, Keibodan dan Pembela Tanah Air (PETA).

Ø Sesudah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, di waktu berkobarnya perang kemerdekaan dibentuklah organisasi kepanduan yang berbentuk kesatuan, yaitu Pandu Rakyat Indonesia pada tanggal 28 Desember 1945 di Sala, sebagai satu satunya organisasi kepanduan di dalam wilayah Negara Republik Indonesia.

Ø Setelah pengakuan kedaulatan maka di dalam alam Liberal, terbukalah kesempatan kepada siapapun untuk membentuk organisasi organisasi kepanduan. Berdirilah kembali organisasi HW, SIAP, Pandu Islam Indonesia, Pandu Kristen, Pandu Katholik, KBI, dan lain lainnya.

Ø Menjelang tahun 1961 kepanduan Indonesia telah terpecah pecah menjadi lebih dari 100 organisaisi kepanduan, suatu keadaan yang terasa sangat lemah, meskipun sebagian daripada organisasi itu terhimpun di dalam tiga federasi organisasi organisasi kepanduan putera dan dua federasi organisasi organisasi kepanduan puteri yaitu IPINDO (Ikatan Pandu Indonesia, tanggal 13 September 1951), POPPINDO (Persatuan Organisasi Pandu Puteri Indonesia pada tahun 1954), dan PKPI (Perserikatan Kepanduan Puteri Indonesia). Tahun 1955 lPINDO berhasil menyelenggarakan Jambore Nasional I di Pasar Minggu, Jakarta.

Ø Mengalami kelemahan itu, maka ketiga federasi tersebut melebur diri menjadi satu federasi yang diberi nama PERKINDO (Persatuan Kepanduan Indonesia). Akan tetapi hanya kira kira 60 buah saja dari 100 lebih organisasi kepanduan itu yang ikut di dalam federasi PERKINDO, dan jumlah anggota secara keseluruhan lebih kurang hanya 560.000 orang.

Ø Lagi pula, di dalam federasi itu sebagian daripada 60 organisasi organisasi anggota PERKINDO, terutama yang ada di bawah onderbouw organisasi politik atau organisasi massa, tetap ber­hadap hadapan berlawanan satu sama lain, sehingga tetap terasa lemahnya gerakan kepanduan Indonesia.

1.Oleh PERKINDO clibentuklah suatu panitia untuk memikirkan suatu jalan keluar. Panitia itu menyimpulkan bahwa selain lemah terpecah pecah, gerakan kepanduan Indonesia itu lemah pula karena terpaku dalam cengkeraman gaya lama yang tradisionil daripada kepanduan Inggris, pembawaan dari luar negeri. Hal ini berakibat bahwa pendidikan yang diselenggarakan oleh gerakan kepanduan Indonesia itu belum disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan bangsa dan masyarakat Indonesia, maka ketika itu gerakan kepanduan kurang memperoleh tanggapan dari bangsa dan masyarakat Indonesia. Kepanduan hanya berjalan di kota kota besar dan di situ pun hanya terdapat pada lingkungan orang orang yang sedikit banyak sudah berpendidikan Barat.

2.Kelemahan gerakan kepanduan Indonesia itu mau dipergunakan oleh pihak komunis sebagai alasan untuk memaksa gerakan kepanduan di Indonesia menjadi gerakan pionier muda seperti yang terdapat di negara negara Komunis.

3.Akan tetapi kekuatan Pancasila di dalam PERKINDO menentangnya, dan dengan bantuan Perdana Menteri Juanda, maka perjuangan mereka menghasilkan keputusan Presiden Republik Indonesia No. 238 tahun 1961 tentang Gerakan Pramuka, yang pada tanggal 20 Mei 1961 ditanda tangani oleh Ir. Juanda sebagai Pejabat Presiden Republik Indonesia, karena Presiden Soekarno sedang berkunjung ke negeri Jepang.

4.Gerakan Pramuka adalah suatu perkumpulan Yang berstatus non governmental (bukan badan Pemerintah), dan yang berbentuk kesatuan. Gerakan Pramuka diselenggarakan menurut jalan aturan demokrasi, dengan pengurusnya (Kwartir Nasional, Kwartir Daerah, Kwartir Cabang dan Kwartir Ranting) dipilih di dalam musyawarah.

5.Semua organisasi organisasi kepanduan di Indonesia, kecuali yang diselenggarakan oleh ko­munis, melebur diri ke dalam Gerakan Pramuka.

6.Di dalam keputusan Presiden No. 238 Tahun 1961 tersebut di atas, Gerakan Pramuka oleh Pernerintah ditetapkan sebagai satu satunya badan di wilayah Republik Indonesia yang diper­bolehkan menyelenggarakan pendidikan kepramukaan bagi anak anak dan pemuda pemuda Indonesia; organisasi lain yang menyerupai, yang sama dan yang sama sifatnya dengan Gerak­an Pramuka dilarang adanya (baca lampiran tentang Keppres No. 238 Tahun 1961).

7.Di dalam Anggaran Dasar Gerakan Pramuka ditetapkan bahwa dasar Gerakan Pramuka adalah Pancasila, dan di dalam Anggaran Dasar itu ditetapkan pula bahwa Gerakan Pramuka bertujuan mendidik anak anak dan pemuda pemuda Indonesia dengan prinsp prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan yang pelaksanaannya diserasikan dengan keadaan, kepentingan dan perkembangan bangsa dan masyarakat Indonesia agar supaya menjadi manusia manusia Indone­sia yang baik, dan anggota masyarakat Indonesia yang berguna bagi pembangunan bangsa dan negara.

8.Ketentuan di dalam Anggaran Dasar Gerakan Pramuka tentang prinsip prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan yang pelaksanaannya diserasikan dengan keadaan, kepentingan dan perkernbangan bangsa dan masyarakat Indonesia itu ternyata kemudian membawa banyak perubahan, yang membawa Gerakan Pramuka dapat mengembangkan kegiatannya secara meluas.

9.Prinsip prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan sebagaimana dirumuskan oleh Lord Baden Poowell itu tetap dipegang, akan tetapi cara pelaksanaannya itu dirubah, yaitu diserasi­kan dengan dengan keadaan dan kebutuhan Nasional di Indonesia, dengan keadaan dan ke­butuhan regional di masing masing daerah di Indonesia, bahkan juga diserasikan dengan keadaan dan kebutuhan lokal di masing masing desa di Indonesia.

10. Gerakan Pramuka itu ternyata jauh lebih kuat organisasinya, dan ternyata memperoleh tang­gapan dari masyarakat luas, sehingga dalam waktu singkat organisasinya telah berkembang dari kota kota sampai kampung kampung dan desa desa. Jumlah anggota anggotanya me­ningkat dengan pesat.

11. Kemajuan pesat itu adalah juga berkat sistim Majelis Pembimbing yang dijalankan oleh Gerak­an Pramuka pada tiap tingkat, dari tingkat nasional sampai pada tingkat Gugus depan.

12. Mengingat bahwa kira kira 80% daripada penduduk Indonesia tinggal di desa dan mengingat pula bahwa kira kira 75% adalah keluarga petani, maka Kwartir Nasional Gerakan Pramuka pada tahun organisasi yang pertama (tahun 1961) sudah menganjurkan supaya para pramuka menyelenggarakan kegiatan di bidang pembangunan masyarakat desa.

13. Pelaksanaan anjuran itu, terutarna di Jawa Tengah dan di Daerah Istimewa Yogyakarta, kemu­dian di Jawa Timur dan Jawa Barat, telah menarik perhatian pernimpin pemimpin masyarakat Indonesia. Maka pada tahun 1966 Menteri Pertanian dan Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka mengeluarkan Instruksi bersama, yaitu tentang pernbentukan satuan karya pramuka Tarunabumi.

14. Satuan satuan karya pramuka Tarunabumi itu dibentuk dan diselenggarakan khusus untuk memungkinkan adanya kegiatan kegiatan pramuka di bidang pendidikan cinta pernbangunan pertanian dan pembangunan masyarakat desa secara lebih nyata dan lebih intensip. Di samping itu ada pula satuan karya pramuka Dirgantara, satuan karya pramuka Bahari, dan satuan karya pramuka Bhayangkara, yang menyelenggarakan kegiatan kegiatan di bidang pendidikan cinta Dirgantara, pendidikan cinta Bahari, dan pendidikan cinta ketertiban masyarakat. Satuan­-satuan karya tersebut, terdiri dari pramuka pramuka penegak (16 sampai dengan 20 tahun) dan pramuka pramuka pandega (21 sampai dengan 25 tahun) yang berminat. Pramuka pramuka siaga dan pramuka pramuka penggalang, yaitu yang berusia 7 sampai dengan 10 tahun dan 11 sampai dengan 15 tahun, tidak ikut dalam satuan satuan karya tersebut, akan tetapi para penegak dan pandega dalarn gugus depannya menjadi instruktur bagi adik adiknya dan rekan­-rekannya pramuka dalam kecakapan yang diperolehnya sebagai anggota satuan karya yang dimaksudkan.

15. Kegiatan kegiatan satuan karya Tarunabumi ternyata membawa pembaharuan, bahkan mem­bawa juga semangat untuk mengusahakan penemuan penemuan baru (inovasi) pada pemuda­-pemuda desa, yang selanjutnya mempengaruhi seluruh rakyat desa.

16. Perluasan Gerakan Pramuka sampai di desa desa, kegiatan di bidang pembangunan pertanian dan pembangunan masyarakat desa, dan pembentukan serta penyelenggaraan satuan satuan karya pramuka Tarunabumi, telah mengalami kemajuan pesat, sehingga menarik perhatian badan internasional seperti FAO, UNICEF, UNESCO, I LO, dan Boy Scout World Bureau.

17. Dalarn perkembangan masyarakat Indonesia dewasa ini, dihadapkan pada berbagai problem problem sosial, seperti kepadatan penduduk, urbanisasi, pengangguran, dan sebagainya. Berhubung dengan itu maka pada tahun 1970 Menteri Transmigrasi dan Koperasi dan Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka mengeluarkan suatu instruksi yaitu tentang partisipasi Gerakan Pramuka dalam menyelenggarakan transmigrasi dan pembinaan gerakan koperasi.

18. Dan berhubung dengan masalah drop outs (anak anak yang berhenti sekolah di tengah jalan), maka Gerakan Pramuka juga mengarahkan perhatiannya kepada pendidikan kejuruan, untuk memberi bekal hidup kelak kepada anak anak, pemuda pemuda, terutama kepada drop outs itu. Untuk itu diadakan kerjasama dengan Departemen Perindustrian.

19. Dalam rangka usaha peningkatan kecakapan, ketrampilan dan bakti masyarakat Gerakan Pramuka mengadakan kerjasama dengan banyak instansi, seperti Palang Merah Indonesia, Bank Indonesia (Tabanas, Tappelpram), Departemen Pekerjaan Umum, Departemen P dan K, De­partemen Agama, dan lain lain.


PASSUSRAKA SMP NASIONAL PATI
2010/2011

by kak dwi rimbawan pati
LAHIR di pati tahun 2010,dengan hobi adik-adik dan juga kakak-kakak pembina kami berinisiatif
membut yang namanya passuska{pasukan khusus penggerak pramuka smp nasa pati)
dengan kerja keras setiap minggu kita selalu latihan dengan kerja keras dan
penuh tanggung jawab akhirnya sampai saat ini passuska smp nasa pati
berkembang sampai sekarang ini karna minat adik2 penggalang sangatlah
semangat dan kami dari pembina trus melatih agar kekompakan selalu meningkat

apa itu passuska nasa pati?????


Suatu Pasukan Penggalang terdiri atas regu-regu penggalang. Dengan
semangat lomba, Pasukan dapat menyelenggarakan lomba tingkat 1
secara periodik (kata PP tiap 4 bulan). Dengan demikian pasukan
selalu hidup karena regu-regu selalu berupaya meng-up-grade regu
agar yang menjadi yang terbaik.

Regu yang sedang "manggung" sebenarnya yang berhak mewakili pasukan
untuk kegiatan keluar.

Regu khusus, pasukan khusus lahir dari 2 keadaan.
Pertama, pewajiban atau masalisasi Pramuka. Karena tidak bisa lagi
dibina, maka akhirnya dijaring Pramuka yang "beneran"nya dan
dimasukkan ke regu khusus atau pasukan khusus. Biasanya ini disebut
juga Pramuka yang "sukarela"-nya.
Tentu saja ini salah. Solusinya juga gampang. Hentikan masalisasi
dan pewajiban.

Kedua, keinginan menang berlomba yang lebih ditekankan pada soal
menang tidak menang. Jadi yang diciptakan adalah regu/pasukan TC
terus-terusan yang disiapkan untuk menghadapi lomba. Penuhnya piala
menjadi ukuran keberhasilan. Anak didoktrin dan digenjot untuk
menang sehingga memberikan tekanan yang besar pada mereka.

Kalau yang kedua mah buat saya, Pembinanya harus diganti. Pembinanya
jelas tidak memahami pendidikan kepanduan/kepramukaan.
PASSUSRAKA NASIONAL PATI